Rabu, 24 November 2010

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

A. PENDAHULUAN
Dalam kerangka perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan, kepemimpinan merupakan salah satu cabang dari kelompok ilmu administrasi dan lebih khusus lagi merupakan bagian daripadailmu administrasi negara.
Sedang ilmu administrasi sendiri merupakan salah satu cabang ilmu terapan atau ilmu sosian yang merupakan salah satu perkembangan ilmu Filsafat di samping ilmu Eksakta dan Humaniora.
Kepemimpinan atau leadershipp termasuk kelompok ilmu terapan atau “Applied Sciences”, dari ilmu-ilmu sosial, sebab prinsip-prinsip, rumus-rumus serta dalil-dalilnya bermanfaat dala meningkatkan kesejahteraan kehidupan manusia. Seperti layaknya ilmuilmu lain kepemimpinan memberikan peranan dan bertujuan untuk :
1. Memberikan atau menyajikan berbagai pengertian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah kepemimpinan.
2. Memberikan berbagai macam penafsiran serta pendekatam terhadap permasalahan yang berkaitan dengan kepemimpinan.
3. Memberikan pengaruhnya dalam dalam menggunakan berbagai cara dan pendekatan dalam usaha ikut serta menyelesaikan atau memecahkan berbagai persoalan yang timbul dan berkaitan dengan ruang lingkup kepemimpinan.
Sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan, kepemimpinan memberikan peranan penting dalam rangka manajemen.
Kepala sekolah merupakan pemimping tertinggi di sekolah. Pola kepemimpinananny akan sangat berpengaruh bahkan menentukan terhadap kemajuan sekolah. Oleh karena itu, dalam pendidikan modern kepemimpinan kepala sekolah merupakan jabatan strategis dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan kata lain, bagaimana cara kepala sekolah untuk membuat orang lain bekerja untuk mencapai tujuan kepala sekolah.
B. TUJUAN
1. Menjelaskan pengertian kepemimpinan pendidikan
2. Menjelaskan fungsi dan tugas pemimpin pendidikan
3. Menjelaskan kriteria kepemimpinan kepala sekolah yang efektif
4. Menjelaskan persamaan dan perbedaan tipe-tipe kepemimpinan
5. Menjelasaskan gaya kepemimpinan yang cocok untuk situasi staf yang dipimpin.
6. Menjelasakan fungsi kepala sekolah sebagai manajer.

C. MATERI
1. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan diartikan sebagai hal yang berhubungan dengan pekerjaan memimpin. Ia dapat mengenai orang, watak, sifat kegiatan atau perilakunya.
Para ahli memberikan batasan kepemimpinan berdasarkan pandangan pribadi dan aspek-aspek yang diilai paling baik menurut mereka.
Kepemimpinan sering diartikan sebagai sifat: sifat, perilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, paham, interaksi/hubungan kerjasam antar peran atau kedudukan administrasi tertentu (Wahjo Sumidjo,2002). Mulyasa (2003) mengartikan kepemimpinan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Pada hakekatnya, kepemimpinan adalah ilmu dan seni untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang / bawahan / pengikut / pendukung / dengan cara membangun kepatuhan, kesetiaan, kepercayaan, hormat dan bekerja sama dengan penuh semangat dalam mencapai tujuan organisasi.
Untuk mencapai keberhasilan, seorang pemimpin perlu bersikap adil, memberi sugesti, memberikan dukungan, bertindak sebagai katalisator, menciptakan rasa aman, sebagai sumber inspirasi, sebagai pelindung dan sebagai atasan. Kemampuan dasar (leadership skills) yang perlu dimiliki seorang pemimpin menurut Suites dalam buku Wahjo Sumidjo (2002) adalah technical skills, human skills dan conceptual skills.
2. Pengertian Pemimpin
Menurut bahasa, pemimpin adalah orang yang memimpin, orang yang memegang tangan sambil berjalan untuk menuntun, menunjukkan jalan orang yang bimbang, orang yang menunjukkan jalan dalam arti kiasan, orang yang melatih, mendidik, mengajari supaya akhirnya dapat mengerjakan sendiri. Pemimpin juga berarti orang yang memimpin dalam arti kiasan seperti penuntun atau pemuka.


Ada beberapa definisi tentang pemimpin antara lain:
a) “Leaders area persons others want to follow, leaders are the ones who command the trust and loyalty of followers – the great persons who capture the imagination and admiration of those with whom they deal. . . . .” (Don Helhiegel, 1982)
b) “Leader is one who succeeds in getting others follow him” (Cowley, 1928)

3. Fungsi dan Tugas Pemimpin
Berdasarkan pengertian definisi sebagaimana dikemukakan diatas lain:
a. Membangkitkan kepercayaan dan loyalitas bawahan
b. Mengkomunikasikan gagasan kepada orang lain
c. Mempengaruhi orang lain
d. Mengkoordinasikan sejumlah kegiatan
Sedang fungsi seorang pemimping misalnya:
1. Menciptakan perubahan secara efektif didalam penampilan kelompok.
2. Menggerakan orana lain sehingga secara sadar orang lain tersebut melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
Nilai –nilai penting dalam definisi-definisi pemimpin adalah
1. Adanya kewibawaan yaitu kekuasaan atau hak untuk mengeluarkan perintah yang harus ditaati
2. Keberhasilan pemimpin ditentukan oleh seberapa besar jauh bawahan memberi dukungan
3. Faktor komunikasi antar manusia (human relation) memegang peranan strategik.
Fungsi pemimpin menurut dua pakar manajemen berikut yang dapat memperkaya pemahaman tentang pemimpin yaitu :
A. James A.F Stoner (Management, 1982)
Agar kelompok dapat beroperasi secara efektif, seorang pemimpin mempunyai du fungsi pokok, yaitu:
a. Fungsi pemecahan masalah. Dalam fungsi ini pemimpin memberikan saran dalam pemecahan masalah serta memberikan sumbangan informasi dan pendapat.
b. Fungsi menjaga keutuhan kelompok. Seorang pemimpin membantu kelompok-kelompok beroperasi lebih lancar, memberikan persetujuan atau melengkapi anggota kelompok yang lain, menjembatani kelompok yang berselisih pendapat.
B. Pendapat Selznick yang disitas oleh Richard H. Hall dalam bukunya yang berjudul Organization Structure and Process (1982):
a. Mendefinisikan misi dan peranan organisasi
b. Menciptakan kebijaksanaan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

4. Keberhasilan Pemimpin
Keberhasilan kepemimpinan pada hakikatnya berkaitan dengan tingkat kepedulian seorang pemimpin terhadap 2 orientasi, yaitu:
Organizational achievement yang mencakup: produksi, pendanaan, kemampuan adaptasi dengan progrsm-program inovatif dan sebagainya. Organization maintenance yang mencakup : kepuasan bawahan, motivasi dan semangat kerja.
5. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah cara yang dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku seorang pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi anak buahnya, apa yang dipilih oleh pemimpin untuk dikerjakan, cara pemimpin bertindak dalam mempengaruhi anggota kelompok membentuk gaya kepemimpinannya. Untuk memahami gaya kepemimpinan, sedikitnya dapat dikaji dari tiga pendekatan utama, yaitu pendekatan sifat perilaku dan situasional.
1. Pendekatan Sifat
Pendekatan sifat mencoba menerangkan sifat-sifat yang membuat seseorang berhasil. Pendekatan ini bertolak dari asumsi bahwa individu merupakan pusat kepemimpinan. Menurut Sutisna (1993), pendekatan sifat berpendapat bahwa terdapat sifat-sifat tertentu, seperti kekuatan fisik, atau keramahan yang esensiil, pada kepemimpinan yang efektif.
Dengan demikian, ada seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat bawaan yang membedakannya dari seorang yang bukan pemimpin. beberapa syarat yang harus dimiliki pemimpin adalah kekuatan fisik daan susunan syaraf, penghayatan terhadap arah dan tujuan., keramahatamahan, integritas, keahlian teknis, kemampuan mengambil keputusan, intelegensi, ketrampilan memimpin dan kepercayaan (Tead, 1963).
2. Pendekatan Perilaku
Pendekatan ini memfokuskan dan mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin dari kegiatannyamempengaruhiorang lain (pengikutnya). Dalam pembahsan ini berturut-turut disajikan berbagai hasil studi mengenaigaya kepemimpinan yang menggunakan pendekatan perilaku.
a. Studi Kepemimpinan Universitas OHIO
Penelitian ini memperoleh gambaran mengenai dua dimensi utama dari perilaku pemimpin yang dikenal sebagai pembuatan inisiatif (initiating structure) dan perhatian (consideration).
Pembuatan inisiatif menggambarkan bagaimana seseorang pemimpin memberi batasan dan struktur terhadap peranannya dan peran bawahannya untuk mencapai tujuan. Adapun konsiderasi menggambarkan derajat dan corak hubungan seorang pemimpin dengan bawahannya yang ditandai dengan saling percaya, menghargai dan menghormati dengan bawahannya.
b. Studi Kepemimpinan Universitas Michigan
Pusat penelitian Universitas Michigan melakukan suatu penelitian pada saat yang hampir bersamaan dengan Universitas Ohio. Studi ini mengidentifikasikan dua konsep yang disebut orientasi bawahan dan produksi (Hersey and Blanchard, 1977)
Pemimpin yang menekankan pada orientasi bawahan sangat memperhatikan bawahan, mereka merasa bahwa setiap karyawan itu penting dan menerima karyawan sebagai pribadi.
c. Jaringan Manajemen
Jaringan manajemen (manajemen grid) dikembangkan oleh Blake dan Mouton, dalam pendekatan ini, manajer berhubungan dengan dua hal yakni perhatian pada produksi di satu pihak dan perhatian pada orang-orang di pihak lain.
d. Sistem Kepemimpinan Likert
Likert mengembangkan suatu pedekatan penting untuk memahami perilaku pemimpin Ia mengembangkan teori kepemimpinan menjadi dua dimensi yaitu orientasi tugas dan individu.
3. Pendekatan Situasional
Pada pendekatan Situasional ini, kepemimpinan lebih merupakan fungsi situasi dari pada sebagai kualitas pribadi dan merupakan suatu kualitas yang timbul karena interaksi orang-orang dalam situasi tertentu.
Ada beberapa studi kepemimipinan yang menggunakan pendekatan ini.
a) Teori Kepemimpinan Kontingensi
Teori ini dikembangkan oleh Fiedler and Chemers, berdasarkan hail penelitiannya tahun 1950, disimpulkan bahwa seseorang menjadi pemimpin bukan saja karena faktor kepribadian yang dimiliki, tetapi juga karena berbagai faktor situasi dan saling hubungan antara pemimpin dengan situasi. Menurut Fiedler tak ada gaya kepemimpinan yang cocok untuk semua situasi, serta tiga faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu hunungan antara pemimpin dan bawahan, struktur tugas serta kekuasaan yang berasal dari organisasi.
b) Teori Kepemimpinan Tiga Dimensi
Dikemukakan oleh Reddin, guru besar Universitas New Brunswick, Canada. Menurutnya ada tiga dimensi untuk menentukan gaya kepemimpinan yaitu perhatian pada produksi dan tugas, perhatian pada orang dan dimensi efektifitas. Memiliki empat gaya dasar kepemimpinan yaitu integrated, related, separated dan dedicated. Selanjutnya gaya kepemimpinan dikelompokkan ke dalam gaya efektif dan tidak efektif.
c) Teori Kepemimpinan Situasional
Teori ini merupakan pengembangan dari tiga dimensi, yang berdasar pada hubungan antara tiga faktor yaitu perilaku tugas (task behavior), perilaku hubungan (relationship behavior) dan kematangan (maturity). Dari ketiga faktor tersebut, tingkat kematangan anak buah merupakan faktor yang paling dominan. Maka tekanan utama dari teori ini terletak pada perilaku pemimpin dalam hubungannya dengan anak buah.
Gaya kepemimpinan yang tepat untuk diterapkan dalam keempat tingkat kematangan anak buah dan kombinasi yang tepat antara perilaku tugas dan hubungan antara lain: gaya mendikte (telling), gaya menjual (selling), gaya melibatkan diri (participacing) dan gaya mendelegasikan (delegating).
6. Kepemimpinan Dalam Peningkatan Kerja
Satu hal penting yaitu peranan kepemimpinan kepala sekolah dalam kaitannya dengan pengembangan guru. Prinsip-prinsip kepemimpinan harus dikaitkan dengan peranan kepala sekolah dan kedudukan pemimpin lainya yang relevan, dan peranan kepemimpinan khusus yang meliputi hubungan dengan staf, siswa, orang tua siswa dan orang lain di luar komunitas tempat sekolah itu berada.
Fungsi pemimpin hendaknya seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantara: “ing ngarso sung tulodho ing madya mangun karso, tut wuri hadayani” (di depan menjadi teladan, di tengah membina kemauan, di belakang menjadi pendorong). Dalam rangka melaksanakan MBS, kepala sekolah sebagai pemimpin harus memiliki kemapuan diantaranya berkaitan dengan pembinaan disiplin pegawai dan motivasi.
a) Pembinaan Disiplin
Disiplin merupakan suatu yang penting untuk menanamkan rasa hormat terhadap wewenang, menanamkan kerjasama dan merupakan kebutuhan untuk berorganisasi, serta menanamkan rasa hormat kepada orang lain.

Strategi umum membina disiplin menurut Taylor dan User (1982) antara lain: Konsep Diri, Keterampilan Berkomunikasi, Konsekuensi Logis, Klarifikasi nilai, Latihan Keefektifan Pemimpin dan Terapi Realitas.
b) Pembangkitan Motivasi
Motivasi merupakan faktor yang dominan dan dapat menggerakkan faktor-faktor lain ke arah efektifitas kerja. Motivasi sering disamakan dengan mesin dan kemudi mobil, yang berfungsi sebagai penggerak atau pengarah.
Ada dua jenis motivasi yaitu intrinsik dan ekstrinsik (Owen, Cs, 1981). Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang datang dari diri seseorang, misalnya pegawai melakukan suatu kegiatan karena ingin menguasai suatu keterampilan tertentu sesuai pekerjaan. Motivasi Ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari lingkungan di luar diri seseorang, misalnya pegawai bekerja karena ingin mendapat pujian atau hadiah.
7. Status dan Peran kepala Sekolah
Menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0296 Tahun 1996 Kepala Sekolah adalah guru yang memperoleh tambahan tugas untuk memimpin penyelenggaraan pendidikan dan upaya peningkatan mutu pendidikan sekolah. Menurut ketentuan ini masa tugas kepala sekolah adalah 4 (empat) tahun yang dapat diperpanjang satu kali masa tugas. Bagi mereka yang memiliki prestasi yang sangat baik dapat ditugaskan di sekolah lain tanpa tenggang waktu.
Kepala sekolah selain memimpin penyelenggaraan pendidikan di sekolah juga berperan/berfungsi sebagai pendidik, manager, administrator, supervisor, pemimpin, pembaharu dan pembangkit minat.

8. Tugas kepala Sekolah
Dalam melaksanakan sejumlah peran/ fungsinya kepala sekolah melaksanakan tugas yang banyak dan kompleks:
a) Dalam perannya sebagai pendidik, kepala sekolah bertugas: membimbing guru, karyawan, siswa, mengembangkan staf, mengikuti perkembagan IPTEK dan menjadi contoh dalam proses pembelajaran.
b) Dalam perannya sebagai manajer, kepala sekolah bertugas sebagai: menyusun program, menyusun pengorganisasian sekolah, menggerakkan staf, mengoptimalkan sumber daya sekolah dan mengendalikan kegiatan.
c) Sebagai administrator kepala sekolah bertugas: mengelola administrasi, KBM dan BK, kesiswaan, ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, persuratan dan urusan rumah tangga sekolah.
d) Sebagai supervisor, kepala sekolah bertugas: menyusun program supervisi pendidikan dan memanfaatkan hasil supervisi.
e) Sebagai pemimpin, kepala sekolah bertugas: menyusun dan mensosialisasikan visi dan misi suatu program sekolah, mengambil keputusan dan melakukan komunikasi.
f) Sebagai pembaharu, kepala sekolah bertugas: mencari dan melakukan pembaharuan dalam berbagai aspek, mendorong guru staf, dan orang tua untuk memahami dan memberikan dukungan terhadap pembaharuan yang ditawarkan.
g) Sebagai pembangkit minat (motivator) kepala sekolah bertugas: menyihir lingkungan kerja, suasana kerja, membangun prinsip penghargaan dan hukuman (reward and punishment) yang sistemik.


9. Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Efektif
Kepala sekolah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah, yang akan menentukan bagaimana tujuan-tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya direalisaikan. Sehubungan dengan MBS, kepala sekolah dituntut untuk senantiasa meningkatkan efektifitas kinerja. Dengan begitu, MBS sebagai paradigma baru pendidikan dapat memberikan hasil yang memuaskan.
Kepemimpinan kepala sekolah yang efektifdalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut:
a) Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif.
b) Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
c) Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.
d) Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah.
e) Bekerja dengan tim manajemen, serta
f) Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Pidarta (1988) mengemukakan tiga macam keterampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah untuk mensukseskan kepemimpinannya, yaitu: Keterampilan Konseptual (keterampilan untuk memahami dan mengoprasikan organisasi), Keterampilan Manusiawi (keterampilan untuk bekerjasama, memotivasi, dan memimpin) serta keterampilan Teknik (keterampilan dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik, serta perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu).

D. KESIMPULAN
 Kepemimpinan adalah Kegiatan untuk mempengaruhi orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi.
 Pemimpin adalah Orang yang memimpin suatu organisasi yang memegang tangan sambil berjalan untuk menuntun dan membimbing orang agar akhirnya dapat mengerjakan sendiri.
 Fungsi Pemimpin:
- Menciptakan perubahan secara efektif di dalam penampilan kelompok
- Menggerakan orang lain sehingga secara sadar orang tersebut melakukan apa yang dikehendaki pemimpin
 Tugas Pemimpin:
- Membangkitkan kepercayaan dan layolitas bawahan
- Mengkomunikasikan gagasan kepada oranglain
- Mempengaruhi orang lain
- Mengkoordinasikan sejumlah pemimpin
 Ada tiga faktor yang merupakan tiga dimensi dalam situasi yang mempengaruhi gaya kepemimpinan, yaitu:
a) Hubungan antara pemimpi dengan bawahan
b) Struktur tugas
c) Kekuasaan yang berasal dari organisasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar