Selasa, 15 Desember 2009

PROBLEMA UMAT ISLAM MASA KINI

1. Pendahuluan
Nabi muhammad saw, sebagai Nabi akhir zaman, penutup semua nabi, penyempurna syariat yang diturunkan Allah swt, adalah rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana firman Allah, wama arsal naa ka illa rahmatan lil ‘alamiin.
Kita yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad saw, harus mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi saw, seperti ayat alQur’an tentang sifat Nabi, sebagai rahmatan lil ‘alamiin itu, dan kita pun harus bersifat seperti itu.
Namun kenyataannya, yang mengaku umat Nabi Muhammad saw, masih banyak berlaku dan bertindak jauh dari apa yang di ajarkan dan yang dicontohkan oleh Nabi. Perusakan alam, perusakan akal, juga perusakan moral.
Menyikapi hal tersebut perlu pembenahan sejak dini, kalau ingin Islam jaya seperti pada zaman keemasannya.
II. Pokok Pikiran
Keadaan kaum muslimin sekarang ini dalam kondisi yang terjepit oleh opini yang dihembuskan oleh orang orang yang tidak suka dengan Islam (yang lebih parah lagi ada orang Islam sendiri yang ikut ikutan mempunyai imij seperti itu).
Muhammad Abduh mengatakan: “al Islam mahzuubun lil muslim”
Senyatanya Islam dan umat Islam itu adalah rahmatan lil ‘alamin, tapi mengapa hal ini bisa terjadi. Ini yang perlu kita kaji sebagai kaum muda muslim. Karena kaum muda adalah calon pemimpin masa depan.
Sebagai orang muda harus punya semangat untuk mengembalikan kejayaan Islam dan umat Islam. Indonesia bangkit dimulai oleh kaum muda, dengan sumpah pemudanya. Kalau kita ingat apa yang dikatakan oleh Presiden pertama kita Soekarno, berikan saya satu pemuda, maka akan saya rubah dunia ini.
Namun sebelumnya kita harus mengkaji, dimana letak kelemahan umat Islam itu dan apa penyebab dari kemunduran umat Islam.
Menurut Ibnu Djarir (Ketua MUI Jawa Tengah) memetakan problematika umat Islam Indonesia dewasa ini adalah: Kemiskinan, Erosi moral, Egoism kelompok, serta posisi umat Islam dalam tarik menarik konservatisme dan liberalisme.
Solusi yang ditawarkan oleh beliau, ialah
1. Memberdayakan ekonomi umat dengan mendayagunakan dana dana keagamaan (zakat, infak, sedekah, hibah, wakaf, waris dan kafarat),
2. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan tarbiyah (pendidikan) dan dakwah Islamiyah meliputi semua komponennya seperti daya insan (pelaku), materi, metode, sarana, dan prasarana,
3. Meningkatkan silaturrahmi antar pempinan umat, dari tingkat pusat hingga daerah, dalam rangka mempererat persatuan dan kesatuan, bertukar pengetahuan dan pengalaman, serta bersama sama memecahkan masalah masalahumat,
4. Umat Islam sebagai mayoritas memiliki tanggung jawab besar atas maju mundur dan jatuh bangun bangsa dan negara ini.
Ibnu Djarir, menekankan pemulihannya pertama lebih tertuju kepada pemimpin umat sebagai motifator dan tauladan kedua kepada kaum muda sebagai penerus kepemimpin.
Sedangkan H. Ahmad Saikhudin dalam tulisannya yang berjudul Kondisi Umat Islam Saat Ini, menyebutkan:
Secara umum kondisi umat Islam saat ini mempunyai kelemahan diantaranya adalah:
1. Akidah,
2. Pendidikan,
3. Pengetahuan,
4. Dakwah,
5. Stuktur/ pengorganisasian, dan
6. Akhlak *)
1. Berbagai kelemahan muslim yang utama dan prinsip pada saat ini adalah kelemahan aqidah di kalangan kaum muslimin. Aqidah pada sebagian besar kaum muslim telah dicampuri dengan berbagai kepercayaan yang merusak aqidah yang sebenarnya. Kepercayaan kepada nenek moyang dengan mengamalkan kepercayaan tradisi jahiliyah yang diwarnai oleh animisme dan dinamisme, sebagian lagi kepercayaan ini dipengaruhi oleh agama Hindu. Aqidah yang dibawa oleh umat Islam tidak juga tertanam secara baik di dada kaum muslimin. Mereka mencampuri dengan kepercayaan kebendaan, keduniaaan dan sebagainya yang menjauhkan aqidahnya darii Allah SWT.*)
2. Tarbiyah Islamiyah di kalangan muslimin sangatlah sedikit. Secara formal yang dilaksanakan oleh sekolah-sekolah negeri atau swasta sangatlah terbatas hanya beberapa jam saja diajarkan di kelas. Sedangkan sekolah Islam tidak begitu banyak. Keadaan ini masih sangat kurang apabila dibandingkan dengan keperluan saat ini. Sekolah Islampun tidak semuanya dapat menyajikan Islam dan tarbiyah yang baik sehingga dapat merubah pribadi pelajar dan gurunya. Pelaksanaan tarbiyah secara informal belum lagi banyak dilaksanakan secara berkesan. Majlis Taklim misalnya, sebagai tarbiyah yang bersifat informal. Dalam pelaksanaannya Majlis Taklim lebih kepada majelis illmu yang memberikan keperluan akal tetapi kurang kepada memenuhi keperluan qolbu dan biasanya kurang begitu membentuk kepribadian.*)
3. Tsaqafiyatan (pengetahuan) Islamiyah di kalangan muslim juga kurang beriringan dengan efektivitas peranan tarbiyah dan sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh umat Islam. Tsaqofah ini berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan wawasan yang bersifat Islam atau umum. Kemampuan ini belum banyak dimiliki oleh kaum muslim. Sebagian menguasai tsaqofah Islam tetapi dalam masalah umum kurang menguasainya (misalnya politik, ekonomi, kemasyarakatan) begitupun sebaliknya kurang ditemui muslim yang mempunyai penguasaan di bidang umum dan memiliki kemampuan tsaqofah Islamiyah. Muslim yang mempunyai ilmu dan tsaqofah demikian tidaklah banyak, dan masih kurang dibandingkan dengan jumlah muslim serta keperluan yang ada. Sebagian muslim yang mempunyai tsaqofah ini kurang sesuai dangan pemahaman aqidah Islamiyah, kurang merujuk kepada manhaz(konsep) yang utama yaitu Al Qur’an dan Sunnah. Sebagian merujuk kepada nilai Barat yang bertentangan dengan Islam, termasuk tsaqofah yang disuburkan oleh kepercayaaan jahiliyah seperti ashobiyah, nasionalisme, sekuler, kapitalisme dan komunisme.*)
4. Dakwah Islampun nampaknya terkena penyakit dan keadaan sekarang seperti kata pepatah hidup enggan matipun tak mau. Kondisi dakwah yang berjalan perlu dipertanyakan lagi tujuan yang hendak dicapai dan cara mencapai tujuan tersebut. Hasil dakwah sekarang ini belum lagi dapat dibanggakan bahkan keadaaan sekarang ini menunjukkan dakwah tidak berjalan karena tidak nampak bertambahnya pengikut atau pengikut yang ada pun semakin berkurang. Dakwah Islam tidak berkesan karena sebagian sudah hilang tujuan sebenarnya yang sudah dipengaruhi oleh berbagai pendekatan yang kurang Islami. Dakwah kurang berkesan karena menjadikan dakwah sebagai organisasi kelompok atau kumpulan elite ataupun perkumpulan yang tidak berdasarkan kepada nilai-nilai Islam. Dakwah yang tidak berjalan adalah satu masalah sendiri, sementara yang sedang berjalanpun perlu dilihat bagaimana keadaan yang sebenarnya, adakah sesuai dengan manhaz (konsep) atau ajaran Nabi atau tidak. *)

5. Tanzim atau organisasi yang dikendalikan oleh Islam perlu dipertanyakan sejauh manakah mereka mengamalkan Islam di dalam tanzimnya. Tanzim dapat dibagi kepada tanzim berupa jamaah yang komitmet pesertanya melalui bai’ah dan organisasi Islam yang terbuka dengan menjalankan beberapa keperluan dan aktivitas Islam secara terbuka, atau organisasi Islam yang berwarna perkumpulan, kelompok, dan yang lainnya. Bagaimanapun tanzim ini perlu dilihat kondisinya karena keadaaannya tak jauh berbeda dengan keadaan umat Islam yang sedang sakit. Apabila pengendali sedang sakit maka ada kemungkinan yang dibawakan akan sakit.*)
6. Akhlak sebagai cermim nuslim sudah dicemari oleh berbagai akhlak jahiliyah yang dilandasi oleh budaya dan gaya hidup masyarakat jahiliyah. Banyak ditemui muslim yang secara statusnya masih sebagai muslim tetapi tidak mencerminkan lagi akhlak Islam yang susah dibedakan dengan mereka yang bukan muslim. Akhlak remaja sangat kentara menampakkan wujud yang salah. Akhlak muslim tidak mewarnai diri muslim secara keseluruhan. Keadaan demikian tidaklah mustahil mengingat ghazwul fikri yang sangat kuat dan hizbusyaitan yang menguasai dunia saat ini.*)
Saya agak tertarik dengan pendapatnya H. Ahmad Saikhudin, karena apa yang dipetakan oleh beliau itu pada pokoknya sama dengan yang di ajarkan oleh Rasulullah saw, saya mencoba untuk menyisiri pendapat beliau sesuai dengan urutanya:
1. Akidah adalah merupakan pondasi utama, kalau akidahnya sudah mantap, maka dia tahan terhadap kondisi dan situasi lingkungan yang mempengaruhi. Penanaman keyakinan sejak dini terhadap kekuasaan Allah, menyakini akan ke Mahaan Allah, makanya sewaktu bayi lahir disuruh untuk diazankan, agar apa yang pertama kali didengar adalah akan keagungan Allah.
2. Tarbiyah, atau pendidikan merupakan pondasi kedua, penanaman pendidikan yang Islamyah perlu dikenalkan sejak dini, sebagaimana sabda Nabi saw, menuntut ilmu itu wajib dari buaian sampai keliang lahat. Dalam sabda lainya Nabi saw, mengatakan ajari anakmu shalat pada umur 7 tahun dan pukullah kalau sudah berumur 10 tahun.
3. Kaitannya dengan pendidikan adalah tentunya pengajaran tentang ilmu, ilmu yang harus diajarkan harus seimbang antara ilmu yang menuju akhirat dan ilmu yang diperlukan dalam hidup di dunia, sebagaimana Sabda Nabi saw, kalau kamu menginginkan dunia, maka dengan ilmu, kalau kamu menginginkan akhirat juga dengan ilmu, kalau kamu ingin keduanya, maka juga dengan ilmu.
4. Dakwah merupakan pilar utama untuk menyampaikan suatu tujuan (dalam bahasa lain bisa disebut Iklan). Kalau kita ingin Islam yang sebenarnya diketahui dan diamalkan, maka kita harus mendakwahkan tentang ajaran Islam yang benar itu. Namun hal itu sangat berbeda pada saat ini.
Dakwah kita sekarang ini, lebih kepada melihat kesenangan para pendengar, yang pada gilirannya para dai, berdakwah hanya menyenangkan pendengar, tidak lagi menyampaikan yang haq.
5. Kelompok organisasi Islam saat ini pada kepentingan organisasi, juga selalu merasa organisasinya yang paling benar dan paling islami, yang lebih parahnya lagi antar organisasi Islam yang ada saling bertentangan, saling menghujat.
6. Yang terakhir adalah akhlaq, sekarang ini akhlah umat kita sudah sangat jauh dari akhlak yang islami, akhlak atau moral umat Islam lebih kepada moral barat (jahiliyah), karena moral ini yang sering dilihat dan dicontohkan oleh orang orang barat.
III. Solusi Alternatif
Melihat penyebab dari kemunduran umat Islam saat ini, untuk perbaikannya sangat sulit, namun kalau mundur kebelakang bagaimana Nabi saw merubah bangsa arab yang jahiliyah menjadi masyarakat yang disebut dalam Qs. ali Imran: 110, menyebutkan sebaik baik ummat (khaira ummah), itu harus memiliki tiga syarat:
1. Mengajak kepada yang ma’ruf,
2. Mencegah yang mungkar, dan
3. Beriman kepada Allah
Bagaimana Rasulullah saw membina selama 13 tahun di preode Mekkah yang pertama ditanamkan adalah tentang akidah dan akhlak, untuk menjadikan sahabat menjadi khairan ummat. Kalau kita mulai dengan mendakwahkan tentang pentingnya akidah dan akhlak.
Namun penanaman akidah dan akhlak tidak bisa hanya dengan retorika, tapi perlu tauladan yang baik, orang akan mengikuti apa yang kita ucapkan atau kita sudah mencontohkan apa yang kita ucapkan.
Baru pada preode kedua di Madinah, Nabi saw mengajarkan tentang ibadah dan muamalah.
Jadi pada prinsipnya adalah pemantapan mental yang dibarengi dengan pemulihan moral yang mengarah kepada kesatuan pemikiran dan gerak. Baru aflikasi nyata dalam kehidupan bermasyarakat dengan berbagai interaksinya, untuk menuju masyarakat madani.
IV. Kesimpulan
Kondisi kaum muslimin sekarang dilihat dari kelemahannya terletak pada; akidah, pendidikan, pengetahuan, dakwah pengorganisiaan dan akhlak. Sedangkan pendapatnya Ibnu Djarir, beliau lebih mengkerucutkan tentang problema umat saat ini hanya dengan empat poin, yaitu: kemiskinan, erosi moral, fanatis kelompok, dan tarik menarik antara kaum tradisional dengan kaum modern. Sebenarnya pada prinsifnya pendapat antara keduanya tidak jauh berbeda.
Kalau boleh saya berpendapat penanganannya adalah hanya kembali kepada konsep Al Qur’an dan Al Hadits, yang dimulai dengan iqra (membaca) dan yang berangkal kepada ku ampusakum wa ahlikum nara, yaitu dengan memulai dari diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar